Jumat, 20 April 2012

Tips Kuliah


-yang terabaikan-


#Sigh...
Begitulah luapan ekspresi mahasiswa karena aktivitas rutin perkuliahan.  Entah itu karena suntuk, cape, atau semangatnya yang sedang turun. Maklum mahasiswa juga manusia biasa, pasti pernah merasa energi dan pikirannya terkuras. Tapi meski bagaimanapun juga, tugas mahasiswa yang paling utama adalah belajar sebaik mungkin. Supaya waktu dan masa kuliahnya tidak terlewatkan percuma, atau agar nilai-nilai mata kuliahnya tidak mengecewakan sudah barang tentu perlu strategi. Nah untuk itu, semoga langkah-langkah taktis di bawah ini bisa membuat kita menyerap materi kuliah lebih berbekas dan tahan lama.
Pasal 1
Sebelum Kuliah
Ilustrasi: di dalam kelas sebelum perkuliahan di mulai
1.   Atur waktu istirahat untuk tidak kurang ataupun berlebihan. Terlepas dari aktivitas yang padat, manajemen waktu tidur perlu dilakukan agar ketika kuliah berlangsung tidak mengantuk. Peristiwa alamiah akibat kurang tidur ini akan jadi penghambat dalam proses transfer ilmu. Konsentrasi penuh yang dibutuhkan untuk menyerap substansi perkulihan, seketika itu akan teralihkan untuk berusaha sekuat tenaga menghilangkan ngantuk atau berujung tidur di tempat (dibaca: fatal). Beda cerita jika waktu istirahat terpenhui dengan cukup (tidur berkualitas), sudah barang tentu bisa berkonsentrasi sehingga setiap detil yang terjadi dapat terekam baik dalam memori. Selain itu tidak baik juga mengalokasikan waktu untuk istirahat berlebih, selain bisa berdampak pada kepala pusing alangkah lebih baik lagi jika digunakan untuk melakukan langkah nomor berikutnya.
2.   Usahakan terlebih dahulu membaca materi-materi yang akan dikuliahkan besok. Modal ini akan mempermudah dalam mengikuti jalannya perkuliahan. Menerima materi yang sama dari dosen dengan yang sudah kita baca sebelumnya, akan semakin memperkuat memori kita dalam menyimpan dan mempermudah untuk mengingatnya kembali.
3.   Kondisikan perut dalam keadaan mendukung, baik itu diisi terlebih dahulu atau tidak diisi sama sekali. Tujuannya tiada lain agar tidak mengganngu konsentrasi ketika perkuliahan berlangsung.
Pasal 2
Ketika Perkuliahan Berlangsung
1.   Biasakan mengawali perbuatan baik dengan membaca doa terlebih dahulu.
2.   Fokuskan pikiran kita hanya pada perkuliahan. Tidak ada lagi yang perlu diingat kecuali berusaha untuk menyerap setiap materi yang dibahas. Seiring dengan itu pikirkan hal-hal yang perlu diklarifikasi terhadap materi yang sedang dibahas, dengan bermodalkan materi yang dibaca sebelumnya atau pengetahuan-pengetahuan lain yang serupa. Tujuan dari usaha itu tiada lain agar perkuliahan tidak berakhir dengan kebingungan, selain itu juga untuk menciptakan budaya diskusi di dalam kelas.
3.   Tuliskan setiap pengetahuan yang dianggap baru atau penting sedetil mungkin. Setidaknya dengan catatan yang kita buat dapat mengingatkan kita akan banyak hal yang telah dibahas dalam perkuliahan.
Pasal 3
Setelah Kuliah Selesai
1.   Langsung review catatan-catatan yang telah kita buat hari itu juga, supaya ingatan kita betul-betul mengikat setiap konsep dan pengetahuan yang telah dibahas. Langkah ini jangan sampai ditunda-tunda, karena kemungkinan besar setiap detil dari bahasan yang telah diterima, semakin hari akan semakin kurang lengkap alias lupa.
2.   Alangkah lebih baiknya materi-materi yang telah diterima dikembangkan lagi dengan membaca sumber-sumber lain yang terkait. Banyak cara untuk melakukan langkah ini, apalagi mahasiswa sekarang sebagian besar punya fasilitas internet yang dapat diakses kapan saja.
Sedikitnya 3 pasal di atas membuka jalan dalam perkuliahan yang diharapkan berbuah keberhasilan. Kekurangan dari pasal di atas tiada lain berupa improvisasi tambahan dari keunikan masing-masing individu.


Tulisan Sebelumnya: "Catatan Seorang Mahasiswa S2"

Minggu, 19 Februari 2012

Catatan Seorang Mahasiswa S2

Tak pernah terbayangkan sebelumnya untuk menempuh pendidikan sejauh ini. Bagi saya seorang yang terlahir dari keluarga kecil, saat itu hanya punya cita-cita bahwa di masa depan saya harus lebih baik dari Bapa. Seiring berjalan waktu, sosok bapa sebagai guru SMP tamatan SMIK melanjutkan kembali pendidikannya hingga meraih titel sarjana. Tak ayal hal ini memotivasi saya untuk langsung melanjutkan studi selepas lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Memang saya termasuk orang yang beruntung. Ditengah biaya pendidikan yang kian hari semakin mahal, orang tua masih sanggup untuk memenuhi berbagai kebutuhan saya sampai dengan sekarang. Bersyukur atas segala nikmat selama ini, berbagai kemudahan tak henti-hentinya Allah curahkan.

Namun di sisi lain terkadang merasa malu sendiri. Disaat orang tua kerja keras untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup, saya seolah tak mau tahu. Sementara teman-teman sebaya sudah bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, saya hanya sibuk berkutat di wilayah kampus tanpa menghasilkan sepeser uang.

Kalaulah tidak konsisten mungkin keadaan ini akan menjadi beban yang berat. Akan tetapi tujuan sudah dirancang sejak awal, keputusan ini harus sungguh-sungguh dijalani.

Bolehlah saat ini saya tidak seperti mereka yang sudah mampu berbakti kepada orang tua, memberikan berbagai macam kebutuhan yang orang tua minta dari hasil perasan keringat sendiri. Mereka memang sudah bisa mandiri bahkan mengabulkan permintaan-permintaan orang tersayang.

Jika boleh jujur saat ini saya merasa iri atas prestasi-prestasi yang telah mereka buat. Tapi kembali lagi bahwa ini adalah pilihan. Berikan saya sedikit waktu untuk belajar. Saya juga sama seperti kalian yang punya cita-cita tinggi. Doakan setelah kuliah selesai, semua saya untuk kalian yang selalu percaya dan bersabar.
Pogung Dalangan, 19 Februari 2012


Tulisan Sebelumnya: "Bicarakan Kepada Dia"
Tulisan Berikutnya: "Tips Kuliah"


Sabtu, 11 Februari 2012

Bicarakan kepada Dia


Dunia tak selamanya ada dalam genggaman
Ada masa dimana kita merasa tak terkalahkan
Disegani lawan dan dihormati kawan
Masa itu seakan hanya diri inilah sumber solusi

Derap kaki berjalan tak tercuat secuil takut
Menghadang setiap aral tanpa rasa gentar
Merasa diri dibentengi ribuan pasukan berani mati
Maksud iyah maka iyah, kehendak tidak maka jadilah tidak

Masa itu mungkin terjerumus dalam keangkuhan
Menengadahkan kepala menepuk kuat dada

Ketika kita terabaikan
Tidak berkesempatan menunjukkan kemampuan
Padahal bisa namun keadaan seolah tak berpihak
Berjuta upaya demi sebuah pengakuan
Alam tetap menutup mata

Sendiri mengetahui tak ada sodara, sahabat, pacar, ataupun teman
Terjebak pada asumsi bahwa tak satupun diantara mereka memberi sokongan
Jadi tak berdaya, terasingkan, terpojokkan, rindu kejayaan

Apalah artinya sebuah dunia kawan
Buka matamu sekarang juga!

Ketika dielu-elukan selalu rendah hati
Kesendirian tidak selalu trend pada kesepian
Biarkan mereka yang tak pernah mau peduli
Hargai dan bahagiakan oleh kemampuan diri
Siapapun mereka yang selalu setia

Kita dengan setiap masanya butuh terhadap hak dasar
Jangan pernah bosan apalagi lupa
Bicarakan semua pada Dia
Tengadahkan tangan, bersujud, tidak usah sungkan meneteskan air mata
Berbahagialah...

Gunung Kawung, 10 Februari 2012
23.20 WIB


Tulisan Sebelumnya: "Biru adalah Warna Hidup Vespa PX 1981"
Tulisan Berikutnya: "Catatan Seorang Mahasiswa S2"


Selasa, 24 Januari 2012

Biru adalah Warna Hidup Vespa PX 1981


Vespa: Not for Sale!!!

Lantang sekali suara corong hitam, asap berkepulan bak poging aedes aegypti si nyamuk demam berdarah. Nyaring bising suaramu mengganggu mereka yang tak merasa biasa, lain dengan kita si fanatic scooter namun tak dekil melainkan rajin mandi dan juga rapih wangi. Kulit tebal yang biru tak pernah pudar. Satu kali jatuh membentur pagar, satu kali terdesak menggesek delman, sekali tertubruk Honda civic dari belakang dan paling tragis hampir terperosok jurang sepulang dari Curug Tujuh Panjalu, untung saja parit melintang menyelematkan kita. Apapun yang terjadi warnamu tetap kuat biru.
Saat itu bermula dari masa putih abu-abu (+/-tahun2005), vespa menjadi kendaraan pribadi yang beda dari teman-teman kebanyakan. Tampilan pertama masih ori  persis ketika dikeluarkan tahun 1981 sedikitpun tidak ada perubahan, wajar saja yang punya bukan anak muda penggemar modifikasi. Kalau diingat lagi tampilan sekarang ada bedanya dengan waktu itu. Batok setang dirubah jadi lancip menghilangkan speedometer yang sudah tak berfungsi, ditambahkan lampu halogen yang menurut “mechanic langganan” mampu menembus kabut, begitu juga dengan lampu send dan lampu belakang diganti setelan vespa excel (keluaran yang lebih muda) berwarna putih, jok kini jadi single membuat pengendera semakin dekat dengan si dia (baca: boncengannya), kemudian sengaja ditambahkan step biar nampak lebih sporty meskipun kurang berdaya guna namun enak juga memasangkan kedua kaki di atasnya, dan masih banyak lagi perubahan-perubahan kecil lain. Untuk engine Sengaja dibiarkan asli dengan pertimbangan daya tahan, sehingga terbukti sampai sekarang masih bandel dan nyaman untuk diajak jalan-jalan sore.
Dapat dibayangkan selepas lulus SMA ditinggal hampir empat tahun ke Bandung, dengan intensitas penggunaan sesekali dalam berbulan, yaitu ketika punya waktu ke Tasik saja. Begitu juga sekarang ditinggal lagi ke Yogyakarta, kalaulah dia manusia pasti kesepian. Kehadirannya seperti tak berguna tak ada yang mau menggunakan meski sekedar membuat mesinnya panas. Saat-saat seperti ini lah di liburan semeseter ganjil waktu yang tepat untuk membangkitkan kembali kondisi motor kesayangan.
Bagi minoritas penyuka vespa, ada keunikan dan kepuasan dari vespa yang tidak diperoleh dari menunggangi motor-motor yang lain. Mendengarkan suaranya khas, merasakan getaran-getaran kecil dari setang tatkala gas dipacu kencang, atau menikamati posisi duduk ketika melaju santai dengan tiupan angin kecil. Berdasarkan pengalaman, mengendarai vespa membuat pikiran rileks. Efek sugesti psikologis ini tak jarang dimanfaatkan untuk refreshing, dan dirasakan ampuh untuk melepas penat dalam keseharian.
Banyak cerita yang tertata sebagai kenangan, tak akan dibuka disini melainkan hanya untuk konsumsi orang-orang terdekat dan membiarkan aku dan mereka si subjek  peristiwa terkesan oleh kebersamaannya dengan si motor itali ini.


Tulisan Sebelumnya: "Trans Studio Bandung"
Tulisan Berikutnya: "Bicarakan kepada Dia"

Minggu, 25 Desember 2011

Trans Studio Bandung


Trans Studio Bandung dari Depan
Nama besar yang menggemparkan dan terkenal terkadang kurang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Hal ini terjadi pada Trans Studio Bandung (TSB) yang diberitakan sangat spektakuler sehingga menyedot banyak perhatian wisatawan khususnya wisatawan dalam negeri. Padahal tatkala berkunjung langsung, aslinya tak sebagus pencerminan dalam media.

Suasana Studi Central
Rabu 21 Desember 2011, Theme Park yang disebut-sebut terbesar di dunia ini dipadati oleh pengunjung yang ingin merasakan kedahsyatan 20 wahana yang ada di dalamnya. Tiket masuk yang di bandrol melebihi harga biasanya (dibaca: jadi Rp.200.000/orang) masih saja belum memuaskan pengunjung karena tidak semua wahana bisa digunakan karena gangguan teknis atau belum memuaskan karena antrian yang sangat panjang untuk mencicipi satu wahana saja atau belum memuaskan karena wahana hanya bisa digunakan untuk pengunjung bertiket VIP (misalnya: wahana transcar) dan atau belum memuaskan karena merasa ironis ketika mengantri dengan sabar sementara mereka yang bertiket VIP melenggang masuk tanpa berdesak-desakan. Namun bagaimanapun itu, tempat rekreasi yang baru tetap saja menarik untuk dikunjungi.

Suasana Memasuki Lost City
Ketika memutuskan untuk berlibur di TSB, buatlah skema perencanaan terbaik demi kenyamanan dan total merasakan semua wahana yang ada. Salah satu hal kecil yang jangan sampai terlupakan adalah membawa pakaian ganti.

Dari Jogjakata dan sekitarnya, perjalanan menuju TSB cukup nyaman menggunakan kereta api. Dengan transportasi masal yang satu ini, kocek yang dikeluarkan lebih minim dan keterbatasan waktu yang dimiliki bisa pula disiasati (berangkat malam pulang kembali malam di hari berikutnya).  Tiket Kereta Kahuripan dari Stasiun Lempuyangan dapat di pesan seminggu sebelum jadwal keberangkatan sekaligus dengan tiket kepulangan. Harga tiket Rp.48.000 jadi pegangan sehingga tenang untuk tidak memikirkan lagi transport pulang pergi lintas propinsi.

Gerbang Magic Corner
Berangkat dari Lempuyangan pada malam hari, sekitar pukul 7 pagi sudah tiba di Kota Kembang kemudian bisa dilanjutkan sarapan pagi dan bersiap untuk menggunakan transportasi lokal. Berjalan sekitar 100 meter ke arah barat Stasiun Kiara Condong ada angkot berwarna putih hijau berutekan Riung Bandung-Dago atau angkot lain yang menuju ke arah Binong. Sesampainya di Binong dilanjutkan menumpangi angkot berwarna merah marun yang akan mengantarkan langsung tepat di depan TSB. Perjalanan menggunakan angkot tidak lebih dari 1 jam. Tips untuk ongkos angkot berikan saja uang  Rp.10.000 dan sebutkan dari jalan mana tadi naik, maka uang kembalian yang diberikan sopir angkot pasti pas.

Amphitheatre: Para Tokoh Pemeran "Legenda Putra Mahkota"
Tiba di TSB baiknya sekitar pukul 10 pagi supaya bisa mencoba semua wahana-wahana yang di bagi ke dalam 3 kawasan yakni “Studio Central”, “Lost City”, dan “Magic Corner”. Pertama-tama cobalah wahana yang membuat enjoy seperti “trans science center”, “trans broadcast museum”, “skypirates zeppelin” dan sebagainya. Kemudian dilanjutkan dengan wahana yang membutuhkan sedikit energi seperti “dragon raider”, “Kong Climb”, “Transcar Racing”, “Dunia Lain”, dan semacamnya. Setelah pemanasan dirasa cukup barulah dilanjutkan dengan wahana yang menantang dan memacu adrenalin seperti “Vertigo”, “Giant Swing”, “Yamaha Racing Coaster”, “Jelajah”, dan lain sebagainya. Untuk mengakhiri petualangan di Indoor tourism ini, baiknya ditutup dengan menikmati wahana yang dibuka pada jadwal tertentu saja seperti “Amphitheatre”.
Akhirnya, awas jangan sampai lupa makan…

Tulisan Sebelumnya: "Lewat Satu Caturwulan"
Tulisan Berikutnya: "Biru adalah Warna Hidup Vespa PX 1981"